Sunday , August 1 2021
Hari Raya Idul Adha 1442 H

Hari Raya Idul Adha 1442 H- Sejarah Dan Makna Perayaan!

Topglobal1.com, Hari Raya Idul Adha 1442 H- Apakah sobat tau atau masih ingat terhadap sejarah Hari Raya Idul Adha. 10 Zulhijjah yang bertepatan pada tanggal 20 Jul 2021 akan dilaksanakan Sholat Hari Raya Idul Adha dan dilanjutkan dengan penyemblihan kurban yang nantinya akan dibagikan kepada sesama.

Lalu bagaimanakah awal mula adanya Hari Raya Idul Adha?

Download: Kumpulan Twibbon Hari Raya Idul Adha 1442 H

Sejarah Hari Raya Idul Adha:

WhatsApp Image 2021 06 30 at 22.23.46

Dalam sejarah islam, Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya kurban bermula ketika Nabi Ibrahim As mengalami mimpi yang terus berulang. Didalam mimpinya Allah memberikan perintah kepada Nabi Ibrahim As untuk menyemblih putra kesayangannya yaitu Ismail.

Download: Kumpulan Poster Hari Raya Idul Adha 1442 H

Nabi Ibrahim As memiliki dua orang anak yaitu Ismail dal Ishak. Anak Nabi Ibrahim As yang bernama Ismail lahir dari seorang perempuan yang bernama Siti Hajar. Nabi Ibrahim mengalami kegalauan disaat mengalami mimpi yang memerintahkan menyembil anaknya Ismail. Karena Ismail adalah anak yang patuh kepada Allah SWT dan kedua orangtuanya.

Kemudian dengan berat hati Nabi Ibrahim mecoba menyampaikan perihal mimpinya kepada Ismail, bahwa Allah SWT memerintahkan untuk menyemblih anaknya.

Baca Juga: Hari Raya Idul Adha 1442 H- Sejarah Dan Makna Perayaan! 

Allah SWT berfirman dalam QS. As-Shaffat ayat 102 yang artinya:

Baca Juga :  Kumpulan Twibbon Hari Raya Idul Adha 1442 H, Gratis Download Di Sini!

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Kemudian  Sebagai bentuk ketaatan Nabi Ibrahim AS, ia memilih untuk melakukan perintah Allah SWT. Anaknya, Ismail, meminta ayahnya untuk mengikatnya dengan tali dan menajamkan pisau supaya ketika disembelih Ismail tidak meronta kesakitan. Ismail juga meminta pakaiannya diberikan kepada sang ibunda sebagai bentuk kenang-kenangan.

Lalu tahukah sobat apa yang terjadi? Ternyata pisau yang digunakan untuk menyemblih Ismail tidak dapat digunakan. Saat itu Allah SWT menggantikan sosok Ismail dengan seekor kambing untuk disemblih. Hal ini tercantum dalam QS. Ash-Shaffat ayat 107 yang artinya:

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

Download:  Kumpulan Twibbon HUT Kota Medan Ke 431

Melalui peristiwa ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa adanya bentuk pengorbanan kasih sayang ayah dan juga bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Semua pengorbanan yang telah dilakukan semata-mata hanya untuk menggapai cinta dan ridho dari Allah SWT. Ismail juga mayakini bahwa perintah Allah SWT adalah yang terbaik untuknya.

Peristiwa ini pula menjadi awal mula ibadah kurban yang sangat dianjurkan.

Makna Perayaan Hari Raya Idul Adha, Sebagai Bentuk Rasa Syukur:

Penyemblihan hewan kurban pada perayaan Hari Raya Idul Adha adalah suatu aktivitas yang rutin dilakukan setiap tanggal 10 Zulhijjah. Kurban adalah salah satu hal yang sangat dianjurkan bagi umat islam yang mampu menunaikannya. Berkurban adalah bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan. “Melalui kurban adalah sebuah momentum untuk menumbuhkan jiwa kemanusiaan dan sifat utama dengan berderma” ungkap Abdul Mu’ti Sekretaris Umum PP Muhamdiyyah. Apalagi ditengah kondisi pandemi Covid 19 saat ini. Melalui kurban adalah salah satu bentuk sedekah yang sangat bermakna berapapun jumlahnya.

Baca Juga :  Poster Hut Kota Medan Ke 431- Download Gratis Di Sini!

Melalui tradisi berkurban, semangat dan komitmen umat islam dalam melaksanakan kurban adalah sangat tinggi. Namun Mu’ti mengingatkan bahwa berkurban perlu mendapatkan perhatian, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan saat berkurban. Salah satunya adalah terkait distribusi hewan kurban yang tidak  merata. Dimana jumlah hewan kurban melimpah dan berlebih di mesjid perkotaan dibandingkan dengan mesjid-mesjid diperdesaan.

Di mesjid wilayah perkampungan yang mayoritas ekonomi masyarakat bawah. Jumlah hewan kurban juga terbatas bahkan berada pada kondisi kekurangan. Selain itu adanya penyemblihan secara komunal juga perlu ditinjau kembali. Pada umumnya, hewan kurban disemblih di mesjid atau musala dan lapangan tempat pelaksanaan sholat id. Mu’ti menilai bahwa pembagian daging kurban seringkali masih melihat relasi antar panitia.

Download: Poster Hut Kota Medan Ke 431

Perlakuan terhadap penerima kurban cendrung seperti peminta-minta yang harus antre berjam-jam dibawah terik matahari. Cara pembagian seperti ini sering terulang setiap tahunnya. Menurut Mu’ti daging kurban sebaiknya diantarkan langsung kepada penerima. Sehingga membuat penerima akan merasa terhomat dan terhindar dari kerumunan yang sangat rentan dengan penyeberan virus Covid 19. Metode lain yang bisa diterapkan adalah melalui penyerahan dalam bentuk daging olahan seperti rendang, dendeng, atau lainnya.

Baca Juga :  Kumpulan Twibbon HUT Kota Medan Ke 431, Gratis Download Di Link Ini!

Mu’ti mengharapkan kedepannya, perlu adanya data yang baik dan singkron antara penerima dan pemberi kurban. Pendataan yang benar perlu dilakukan agar hewan kurban tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar saja. Sebaiknya, penyebaran daging kurban juga sampai ke derah tertinggal, terluar, dan terpencil (3T). Melalui penyebaran daging kurban ke wilayah 3T akan dapat menggerakkan ekonomi masyarakat bawah dan pemberdayaan peternak.

Baca Juga: Hari Jadi Kota Kota Medan Ke 431 Tahun, Begini Sejarahnya!!

Kemudian penyemblihan hewan kurban lebih baik di rumah pemotong hewan (RPH) agar hewan disemblih oleh jaga muslim profesional, karena terjamin kebersihan dan keamannya. Memang mungkin terasa tidak afdal karena tidak melihat langsung hewan kurban. Namun kebersihan dan keamanan hewan kurban perlu dijaga apalagi pada masa pandemi Covid 19 saat ini sangat disarankan agar tidak terjadi kerumunan. Misalkan penyemblihan tetap dilakukan diluar RPH, hendaknya dibatasi jumlahnya dan mematuhi protokol kesehatan dan tidak terjadi kerumunan massa.

Akhir Kata

Semoga melalui sejarah ini dapat menjadi pelajaran dan menginspirasi sobat semua.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1442 H

Minal Aidin Walfaizin, Mohon maaf Lahir dan Bathin.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *