Thursday , July 7 2022
Sejarah Hari Bidan Nasional

Sejarah Hari Bidan Nasional (24 Juni)

Topglobal1.com, Sejarah hari bidan nasional – Tanggal 24 juni diperingati sebagai hari bidan nasional. Peringati ini sebagai bentuk penghargaan kepada bidan yang telah membantu persalinan ibu dan anak.

Berikut Sejarah Hari Bidan Nasional:

Bidan adalah ahli dalam persalinan normal. bidan sangat identik dengan pekerjaan yang berteknologi rendah dan mengandalkan lebih banyak sentuhan.

Mayoritas bidan hanya sekolah dengan gelar sarjana, dan bekerja sebagai bidan. Selanjutnya, mereka akan kembali sekolah selama 2-3 tahun untuk meraih gelar master.

Bidan berperan penting dalam memastikan bahwa perempuan bisa menikmati pemenuhan hak dan kesehatan seksual dan reproduksinya dengan menyediakan layanan berkualitas konseling dan keluarga berencana, layanan antenatal-persalinan-nifas.

Layanan pasca keguguran layanan  pasca  keguguran, layanan  bayi  baru lahir, konseling dan tes untuk HIV dan pelayanan lainnya.

Segitu banyaknya peran seorang bidan sehingga sebagai penghargaan terhadap jasanya maka pada tanggal 24 juni 1951 awal mula diperingatinya hari bidan nasional.

Hari Bidan Nasional bermula dari ide para bidan senior di Jakarta untuk menggelar Konferensi Bidan Pertama. Konferensi yang dilaksanakan di Jakarta, 24 Juni 1951.

Baca Juga :  Download Twibbon Lebaran 2021 Disini Gratis, Super Cepat!

Dan Sejak 1992, para bidan di seluruh dunia telah merayakan pengakuan akan kontribusi dan kerja mereka lewat peringatan Hari Bidan Internasional setiap 5 Mei.

Nah jika teman-teman sedang mencari tentang sejarah hari bidan nasional, maka kamu sudah berada di website yang tepat karena hari ini mimin akan membahas sejarah hari bidan nasional, berikut penjelasan lengkapnya, silahkan disimak:Dalam konferensi itulah didirikan sebuah organisasi profesi yang kemudian dikenal sebagai Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Adapun tujuan IBI juga dirumuskan dalam konferensi 70 tahun lalu tersebut, yakni:

  • Menggalang persatuan dan persaudaraan antar sesama bidan serta kaum wanita pada    umumnya, dalam rangka memperkokoh persatuan bangsa.
  • Membina pengetahuan dan keterampilan anggota dalam profesi kebidanan, khususnya dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta kesejahteraan keluarga.
  • Membantu pemerintah dalam pembangunan nasional, terutama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
  • Meningkatkan martabat dan kedudukan bidan dalam masyarakat.

IBI diprakarsai oleh sejumlah bidan yaitu Ibu Selo Soemardjan, Ibu Fatimah, Ibu Sri Mulyani, Ibu Salikun, Ibu Sukaesih, Ibu Ipah dan Ibu S. Margua. IBI menjadi satu-satunya organisasi resmi bagi para bidan Indonesia.
Dalam konferensi tersebut, ada sejumlah hal yang dihasilkan yakni:

  • Sepakat membentuk organisasi Ikatan Bidan Indonesia, sebagai satu-satunya organisasi yang merupakan wadah persatuan & kesatuan Bidan Indonesia.
  • Pengurus Besar IBI berkedudukan di Jakarta.
  • Di daerah-daerah dibentuk cabang dan ranting. Dengan demikian organisasi/perkumpulan yang bersifat lokal yang ada sebelum konferensi ini semuanya membaurkan diri dan selanjutnya bidan-bidan yang berada di daerah-daerah menjadi anggota cabang-cabang dan ranting dari IBI.
  • Musyawarah menetapkan Pengurus Besar IBI dengan susunan sebagai berikut:
    Ketua I : Ibu Fatimah Muin
    Ketua II : Ibu Sukarno
    Penulis I : Ibu Selo Soemardjan
    Penulis II : Ibu Rupingatun
    Bendahara : Ibu Salikun
Baca Juga :  Peringatan Hari Keluarga Nasional 2021

Seluruh anggota IBI terdiri dari wanita hingga bergabung dengan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) pada tahun 1951.

Kemudian pada tanggal 15 Oktober 1954, IBI menjadi organisasi berbadan hukum dan terdaftar dalam Lembaga Negara nomor: J.A.5/92/7 Tahun 1954 oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

Pada 1956, IBI menjadi bagian dari ICM (International Confederation of Midwives). Menurut Undang-Undang RI No.8 tahun 1985, tentang organisasi kemasyarakatan, IBI terdaftar sebagai anggota ke 133 Lembaga Sosial Masyarakat di Indonesia.

Baca Juga :  Sejarah Hari Kejaksaan

Saat ini, IBI memiliki 249 cabang di seluruh Provinsi di Indonesia. Di kiprah internasional, IBI selalu aktif mengikuti berbagai kegiatan terutama kongres ICM maupun kongres ICM Regional Asia Pacific (Aspac).

Tak hanya sebagai organisasi profesi, nyatanya IBI juga terdaftar sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Hingga saat ini, IBI telah memiliki setidaknya 338.864 anggota yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan 34 pengurus daerah di tingkat provinsi.

Pada tahun 2020 ini, IBI genap berusia 69 tahun. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, selalu ada tema peringatan lahirnya IBI tersebut. Jadi di tahun 2022 ini IBI sudah berusia 71 tahun.

Beberapa kegiatan yang rencana akan dihelat dalam rangka peringatan Hari Bidan Nasional adalah seminar, bakti sosial, anjangsana atau kunjungan sesepuh IBI, tabur bunga ke makam sesepuh yang telah wafat.

Baiklah teman-teman sampai disini dulu pembahasan kita hari ini tentang sejarah hari bidan nasional, semoga bermanfaat dan jangan lupa di share ke teman-teman yang lain ya.

Baca Juga: Twibbon Hari Bidan Nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published.